We Can Be Your Friends On Science Study Because You Can Get Eastly Download The More Article, Picture, Video, And More Reference About Science. You Can Upload Your Activities In Science, Food Recipe, Various Crop Benefit For Drug, And etc. We Want You Science Study An Enjoyed.

Senin, 09 November 2009

sistem saraf

SISTEM SARAF

by Lutfi H Basri

Tubuh manusia dilengkapi tiga perangkat pengatur kegiatan tubuh yang terdiri dari sistem saraf, sistem hormon (endokrin), dan pengindraan. Sistem saraf bekerja dengan cepat untuk menanggapi adanya perubahan lingkungan yang merangsangnya. Pengaturan sistem saraf dilakukan oleh benang-benang saraf.

Sistem saraf dalam melakukan fungsinya sama seperti pesawat telepon rumah kita. Dia butuh kabel untuk bisa digunakan dalam berkomunikasi. Dalam beberapa detik setelah kita menekan nomor tujuan kita, kita langsung dapat berkomunikasi dengan seseorang yang jauh dari rumah kita. Seperti itulah fungsi sistem saraf kita.

Sistem saraf akan bekerja lebih cepat dibandingkan pesawat telepon rumah yang kita kenal saat ini. Sistem saraf juga memiliki kabel yang berupa sel-sel saraf yang menghantarkan rangsang dari indra (reseptor) menuju ke pusat saraf, dari pusat saraf menuju ke indra (reseptor) kembali. Indara inilah alat yang mampu menerima rangsang.Rangsang ini adalah penyebab terjadinya perubahan dalam atau bagian tubuh. Rangsangan dapat berasal dari luar tubuh, misalnya berupa bau, rasa pahit-manis, sentuhan, cahaya, suhu, tekanan atau gaya berat. Indra yang bisa menerimanya disebut reseptor luar (eksteroseptor). Ada juga rangsangan dari dalam tubuh sendiri, dapat berupa rasa lapar, kenyang, nyeri, dan kelelahan. Indra yang dapat menerima rangsangan dalam ini disebut reseptor dalam (interoseptor).

1. SEL SARAF

Sel saraf ini adalah bagian fungsional utama dalam sistem saraf. Kesatuan struktural dan fungsional sistem saraf disebut neuron. Neuron tersusun atas badan sel saraf, serabut-serabut saraf, dan selubung-selubungnya (lihat gambar). Badan sel saraf mengandung inti sel yang berbentuk vesikuler (seperti pembuluh) dengan membran yang tipis. Inti sel mengandung satu anak inti besar yang kaya akan RNA (asam ribonukleat) dan sitoplasma yang disebut neuroplasma. Ada 2 macam serabut sel saraf, yaitu dendrit dan akson.

Dendrit merupakan serabut saraf pendek, biasanya bercabang-cabang dengan bentuk dan ukuran berbeda-beda. Dendrit berfungsi menerima impuls (rangsang) yang datang dari ujung akson neuron lain untuk dibawa menuju ke badan sel saraf. Sedangkan akson merupakan serabut yang panjang dan umumnya tidak bercabang. Fungsi akson adalah meneruskan impuls dari badan sel saraf ke kelenjar dan serabut-serabut otot. Panjang akson mencapai ratusan sentimeter.

Selubung sel saraf yang mengelilingi akson terdiri dari substansi lemak sehingga berwarna putih. Selubung ini tidak berinti dan dinamakan selubung mielin. Selubung mielin tersusun dari rangkaian sel-sel schwann. Pada pertemuan antara selubung mielin satu dengan lainnya terdapat bagian yang tidak terlindung, bagian ini disebut Nodus Ranvier. Nodus Ranvier berfungsi untuk mempercepat jalannya impuls. Menurut struktur dan fungsinya, neuron dapat dikelompokkan menjadi tiga (gambar)

Nama

Struktur

Fungsi

Neuron sensorik

Badan selnya bergelombang membentuk ganglion, aksonnya pendek, dan dendritnya panjang

Membawa rangsangan ke sistem saraf pusat

Interneuron (neuron intermediet)

Atau neuron konektor

Dendritnya pendek dan aksonnya ada yang pendek dan panjang

Menerima impuls dari neuron sensori atau neuron intermediet lainnya

Neuron motor

Dendrit pendek dan aksonnya panjang

Membawa/meneruskan sistem saraf pusat ke efektor

2. PRINSIP PENGHANTARAN IMPULS

Impuls (rangsangan) yang diterima oleh neuron sensori dihantarkan melalui sel saraf dan sinapsis. Sinapsis merupakan titik pertemuan antara terminal neuron yang satu dengan lainnya.

  1. Penghantaran Lewat Sel Saraf

jika tidak ada rangsangan neuron dikatakan dalam keadaan istirahat. Muatan listrik diluar membran neuron adalah positif, sedangkan muatan listrik didalam neuron adalah negatif. Keadaan seperti ini juga disebut polarisasi. Jika neuron dirangsang dengan kuat, maka permiabilitas membran akan berubah. Akibatnya, polarisasi membran berubah, polarisasi mengalami pembalikan dilokasi tertentu. Kemudian proses pembalikan polarisasi diulang sehingga menyebabkan rantai reaksi. Dengan demikian, impuls berjalan sepanjang akson. Setelah impuls berlalu, membran neuron memulihkan keadaannya seperti semula. Selama masa pemulihan ini, impuls tidak bisa melewati neuron tersebut. Waktu ini disebut periode refraktor.

  1. Penghantaran Lewat Sinapsis

Sinapsis adalah penghubung yang mengendalaikan komunikasi antar neuron.

    1. Struktur Sinapsis

Pada setiap neuron, aksonnya berakhir pada suatu tonjolan kecil yang disebut tombol sinapsis. Permukaan membran tombol sinapsis disebut membran prasinapsis yang berfungsi melakukan transmisi rangsangan. Sementara itu, permukaan membran dendrit dari sel yang dituju disebut membran post-sinapsis yang berfungsi sebagai penerima transmisi rangsangan. Kedua membran tersebut dipisahkan oleh celah sinapsis.

Pada sitoplasma tombol sinapsis (gelembung sinapsis), terdapat neurotransmitter, neurotransmitter merupakan zat kimia yang dapat menanggapi impuls elektrik pada neuron dn dapat mentransmisikan impuls ke neuron berikutnya. Contoh neurotransmitter adalah asetilkolin, dopamin, noradrenalin, dan serotonin. Asetilkolin terdapat diseluruh sistem saraf, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatetik, dopamin dan seritonin terdapat di otak. Neurotransmitter utama pada mamalia adalah setilkolin dan noradrenalin

    1. Mekanisme Kerja Sinapsis

Jika impuls tiba di tombol sinapsis, maka akan terjadi peningkatan permaebilitas membran prasinapsis terhadap ion Ca. Akibatnya, ion Ca masuk dan gelembung sinapsis melebur dengan membran pra-sinapsis sambil melepaskan neuroransmitter ke celah sinapsis. Neuroransmitter membawa impuls ke membran post-sinapsis. Setelah menyampaikan impuls, kemudian neuroransmitter dihidrolisis oleh enzim yang dikeluarkan membran post-sinapsis, misalnya enzim asetilkolinesterase. Jika neuroransmitter-nya berupa asetilkolin, maka akan dihirolisis menjadi kolin dan asam etanoat. Kolin dan asam etanoat ini kemudian akan disimpan di gelembung sinapsis untuk dipergunakan lagi.

3. SUSUNAN SISTEM SARAF

Sisem saraf dalam tubuh dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat (sentral) dan sistem saraf tepi (periferal).

  1. Sistem Saraf Pusat

Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).

1. Otak

Otak befungsi sebagai pusat koordinasi dalam tubuh. Otak berada didalam tulang tengkorak dan diselubungi oleh jaringan yang disebut Meninges. Selapujt ini tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan terluar melekat pada tulang disebut duramater, lapisan tengah disebut arakhnoid, dan lapisan dalam melekat pada lapisan sumsum, disebut piamater. Penyakit radang pada selaput meninges disebut meningistis.

Otak merupakan ujung anterior tabung neural yang membesar. Pada manusia, pembesaran itu begitu besar sehingga persamaannya dengan sumsum tulang belakang tidak terlihat.

Tabel Bagian otak dan derivat utamanya

Bagian Otak

Derivat Utamanya

Otak Depan

(Prosensefalon)

- Telensefalon

- Diensefalon

Bulbus Olfaktori

Hemister serebrum

Epitalamus, badan pineal, talmus, hipotalamus, kelenjar pituitari (sebagian)

Otak Tengah

(Mesensefalon)

Kolikulus Superior

Kolikulus Inferior

Otak Belakang

(Rombensefalon)

- Metensefalon

- Mielensefalon

Serebelum

Medulla Oblongata

Serebrum memiliki permukaan yang brlipat-berlipat dan mengandung ratusan juta neuron. Korteks (bagian luar) serebrum terdiri dari substansi grissea yan berwarna abu-abu. Medula (bagian dalam) serebrum berwarna putih disebut substansi alba. Saluran tengah sumsum tulang belakang menjulur ke dalam otak dan bersambung dengan beberapa ruang besar yang salaing berhubungan disebut ventrikel. Semua ruangan ini diisi dengan cairan serebrospinal yang sebagian besar dihasilkan oleh pleksus koroid vaskular yang berkembang dalam dinding tipis medula dan diensefalon serta ventrikel lateral.

Medula oblongata terletak dibagian antara sumsum tulang belakang dengan bagian otak lainnya. Fungsinya mengatur denyut jantung, tekanan darah, gerakan pernafasan, sekresi ludah, menelan, gerak peristaltik, batuk, dan bersin.

    1. Medula Spinalis atau sumsum tulang belakang

Sumsum tulang belakang menyerupai tali putih kemilau dari dasar otak ke tulang belakang. Irisan melintang sumsung tulang belakan menunjukkan bagian luar yang tersusun dari bahan putih disebut substansi alba dan bagian dalam yang tersusun dari bahan abu-abu yang disebut substansi grissea yang berbentukkupu-kupu. Dalam bahan abu-abu terdapat saluran tengah (kanal sentral) yang berisi cairan serebrospinal. Saluran ftersebut berhubungan dengan rongga ventrikel di dalam otak yang juga berisi cairan tersebut.

Substansi alba mengandungakson bermielin, berfungsi menghantarkan impuls menuju ke otak dan dari otak ke efektor. Substansi grissea mengandung serat-serat saraf tidak bermielin dan sinapsis. Bagian Substansi grissea dibedakan menjadi dua, yaitu akar dorsal dan akar ventral. Di dalam akar dorsal terdapat saraf sensori/aferen yang dendritnya berhubungan dengan reseptor. Akar ventral mengandung badan sel saraf motor/eferen yang membawa impuls dari otak ke efektor.

Sumsum tulang belakang juga dilindungi oleh selaput meninges. Fungsi utama sumsum tulang belakang adalah menghubungkan impuls dari dan ke otak, serta memberi alternatif jalan terpendek pada gerak refleks.

  1. Sistem Saraf Tepi (saraf periferal)

Sarafa tepi terdiri dari pasangan-pasangan saraf kranial dan saraf spinal yang keluar dari otak dan sumsum tulang belakang serta menghubungkannya dengan tiap reseptor dan efektor dalam tubuh. Sistem saraf tepi dibagi menjadi sistem sensori somatik dan sistem autonom. Namun, berdasarkan arah impulsnya dibagi menjadi dua, yaitu sistem aferen dan sistem eferen. Sistem aferen mengandung sel saraf yang menghantarkan informasi dari reseptor ke sistem saraf pusat. Sistem saraf eferen mengandung sel saraf yang menghantarkan informasi dari sistem saraf pusat de otot dan kelenjar.

    1. Saraf Sensori Somatik, sistem ini meliputi 12 pasang saraf kranial dan 31 pasang saraf spinal yang semuanya merupakan saraf campuran. Dari 12 nama saraf kranial, saraf nomor I, II, dan VII terdiri atas neuron-neuron sensori; saraf nomor III, IV, VI, XI, dan XII terdiri atas neuron-neuron motorik; sedangkan yang lainnya (nomor V, VII, Ix) terdiri atas gabungan neuon motor dan sensorik; nomor X (nervus vagus) mempunyai daerah jelajah luas sehingga disebut saraf pengembara. Pada saraf spinal, 31 pasang saraf ini merupakan gabungan antara neuron motor dan neuron sensorik. Neuron sensorik mesuk ke sumsum tulang belakang melalui akar dorsal,semua dendritnya berasal dari reseptor sedang neuron motorkeluar dari sumsum tulang belakang melalui akar ventral dan semua neuritnya menuju ke efektor.

TABEL. 12 PASANG SARAF KRANIAL

No

Nama Saraf

Asal Saraf Sensori

Asal Saraf Motor

I

Olfaktori

Selaput lendir hidung

-

II

Optik

Retina mata

-

III

Okulomotorik

Otot penggerak bola mata

Otot penggerak bola mata, akomodasi mata, penyempitan pupil

IV

Troklear

Otot penggerak bola mata

Otot lain penggerak bola mata

V

Trigeminal

Gigi,kulit muka, rahang

Otot pengunyah

VI

Abdusen

Otot penggerak bola mata

Otot lain penggerak bola mata

VII

Fasial

Ujung pengecap, wajah, bibir, dan kelopak mata

Otot muka, kelenjar ludah

VIII

Auditori

Klokea dan saluran semisirkuler

-

IX

Glosofaringeal

Ujung pengecap di lidah belakang

Kelenjar parotis, otot penelan di laring

X

Vagus

Ujung saraf alat dalam, paru-paru, lambung, aorta, dan laring

Parasimpatetik ke jantung,lambung, usus halus, laring, tenggorokan

XI

Spinal

Otot belikat

Otot di belikat

XII

Hipoglosal

Otot lidah

Otot di lidah

    1. Saraf Autonom, saraf-saraf in mengatur dan mengontrol kegiatan organ-organ dalam. Misalnya kelenjar keringat, otot perut, pembuluh darah, dan alat-alat reproduksi. Ada dua macam saraf autonom yaitu saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik. Stimulasi dari sistem saraf simpatetik pada umumnya berakibat merangsang kerja organ, sebaliknya, stimulasi oleh saraf parasimpatetik pada umumnya bersifat menghambat kerja organ. Jadi efek kerja kedua saraf ini bersifat antagonis. Efek yang berbeda ini menyebabkan neurotransmitter yang dihasilkannya pun berbeda. Pada saraf simpatik, neurotransmitter adalah noradrenalin, sedang pada saraf parasimpatetik adalah asetilkolin

Tabel. Efek Antagonis Sistem Saraf Parasimpatetik dan Simpatik

Organ atau Jaringan

Efek Stimulasi Sistem Saraf Parasimpatetik

Efek Stimulasi Sistem Saraf Simpatetik

Iris (Pupil Mata)

Menyempitkan Iris (Pupil)

Melebarnya Iris (pupil)

Kelenjar air mata

Menstimulasi keluarnya air mata

-

Kelenjar air liur

Merangsang sekresi air liur

Menghambat sekresi air liur

Otot antar rusuk

Mengurangi kecepatan bernafas

Meningkatkan kecepatan bernafas

Bronkus dan bronkiolus

Mengecilkan bronkus dan bronkiolus

Membesarkan bronkus dan bronkiolus

Jantung

Menghambat kecepatan denyut jantung

Meningkatkan kecepatan denyut jantung

Pembuluh darah

Menurunkan tekanan darah

Meningkatkan tekanan darah

Sistem urin

Meningkatkan pengeluaran urin

Menurunkan pengeluaran urin

usus

Merangsang gerak peristaltik

Merangsang sekresi getah lambung

Merelaksasikan sfingter dubur

Menghambat gerak peristaltik

Menghambat sekresi getah lambung

Kontraksi sfingter dubur

Kulit

Tidak berpengaruh

Tidak berpengaruh

Merangsang vasodilatasi, yaitu pembesaran diameter pembuluh darah, biasanya pada arteriola

Kontraksi otot penegak rambut

Merangsang produksi keringat

Merangsang vasokontriksi, yaitu pengecilan diameter pembuluh dara, biasanya pada arteriola

Hati

Mengubah glukosa menjadi glikogen

Mengubah glikogen menjadi glukosa

Senin, 19 Oktober 2009

sistem reproduksi

KEMANDULAN

By. Lutfi Hasan Basri

Kemandulan atau infertil adalah ketidakmampuan pasangan suami istri untuk mancapai kehamilan setelah berusaha selama setahun melaksanakan hubungan seksual secara teratur dan tidak menggunakan alat kontrasepsi atau perempuan yang berhasil hamil namun selalu mengalami keguguran. Kemandulan merupakan kebalikan dari kesuburan (fertil) dimana kemampuan pasangan suami istri untuk menghasilkan keturunan. Kesuburan pada laki-laki dimulai sejak masa puber hingga kematian, sedangkan pada wanita sangat terbatas yakni dimulai pada masa puber hingga masa monopause (berhentinya haid) sekitar usia 45 tahun.

Kemandulan ini ada 2 macam ; kemandulan primer adalah istilah untuk pasangan suami istri yang sama sekali belum memiliki anak. Jika sebelumnya pernah memiliki anak, tetapi kehamilan berikutnya belum berhasil dicapai, maka digunakan istilah kemandulan skunder.

Kemandulan dapat dimiliki oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Sebab dalam beberapa kasus faktor perempuan hanya sepertiga dari total kasus kemandulan, sepertiganya lagi merupakan faktor laki-laki dan sepertiga sisanya merupakan gabungan antara faktor laki-laki dan perempuan.

Kemandulan pada laki-laki umumnya disebabkan oleh :

· Gangguan pada pabrik sperma sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit dibandingkan sel sperma normal atau tidak dihasilkan sama sekali sel sperma.

· Gangguan pada kemampuan sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Hal ini biasanya disebabkan bentuk sperma yang tidak normal sehingga mengganggu pergerakannya.

Gangguan pada sperma ini kebanyakan karena adanya perubahan gaya hidup. Sehingga seorang dewasa normal bisa juga mengalami gangguan sperma ini. Akan tetapi bisa juga gangguan sperma ini telah dibawa sejak lahir. Perubahan gaya hidup yang tidak bersahabat dengan sperma ini antara lain : minum beralkohol, narkoba, polusi udara, merokok, penggunaan radiasi atau kemoterapi untuk pengobatan kanker, dan obat-obatan yang tidak jelas.

Kemandulan pada perempuan umumnya disebabkan karena terganggunya proses ovulasi, ditandai dengan haid yang tidak teratur atau tidak haid sama sekali, atau Nyeri haid yang diluar kebiasaan. Kemandulan pada perempuan dapat juga diakibatkan gangguan antara lain :

  • Tertutupnya saluran lubang Tuba Fallopi yang disebabkan infeksi.
  • Endometriosis dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik
  • Gangguan fisik rahim
  • Penyakit radang panggul
  • Keguguran lebih dari sekali

Peluang terjadinya kemandulan pada perempuan ini ditingkatkan oleh beberapa faktor antara lain : umur, stress, kurang gizi, terlalu gemuk dan terlalu kurus, merokok, alkohol, penyakit menular seksual, terganggunya keseimbangan hormon karena terganggunya kesehatan.

Kamis, 15 Oktober 2009

rumah sehat

RUMAH SEHAT


oleh Lutfi Hasan Basri, S.Pd


Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: rumah-sehat1

1. Sirkulasi udara yang baik.

2. Penerangan yang cukup.

3. Air bersih terpenuhi.

4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:

1. Bahan Bangunan

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :

· Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3

· Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

· Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah

Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:

a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

b. Dinding

· Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara

· Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus­ dilengkapi dengan penangkal petir

e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.

f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :

a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C

b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

d. Pertukaran udara

e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit

Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah

a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.

b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur

Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”

Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :

1. Mencegah terjadinya penyakit

2. Mencegah terjadinya kecelakaan

3. Aman dan nyaman bagi penghuninya

4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Sumber:

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan

Ditjen P2MPLM, Petunjuk Tentang Perumahan dan Lingkungan Serta Penggunaan Kartu Rumah, 1995.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

oleh Lutfi Hasan Basri, S.Pd

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dimana pengertiannya sebagai berikut :bersin

1. Infeksi

Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2. Saluran pernafasan

Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

3. Infeksi Akut

Adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru – paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu :

* ISPA non- Pneumonia : dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek

*Pneumonia : apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas, peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat).

Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah superior menuju faring.

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

Menurut WHO, sekresi lendir atau gejala pilek terjadi juga pada penyakit common cold disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan atau coronavirus. Penyakit ini dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari. Sedangkan pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran nafas bagian atas. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernafasannya.

Sumber:

Depkes RI, Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA, 2001

Mukono, Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Pernafasan, 1997

Faktor Resiko ISPA Pada Balita

Melanjukan tulisan terdahulu tentang ISPA serta klasifikasi ISPA pada Balita, maka kita perlu mengetahui beberapa faktor resiko ISPA pada Balita. Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor resiko yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor resiko tersebut adalah sebagai berikut :

a. Faktor resiko yang meningkatkan insiden pneumonia

· Umur <>

· Laki-laki

· Gizi kurang

· Berat badan lahir rendah

· Tidak mendapat ASI memadai

· Polusi udara

· Kepadatan tempat tinggal

· Imunisasi yang tidak memadai

· Membedong anak (menyelimuti berlebihan)

· Defisiensi vitamin A

b. Faktor resiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia

· Umur <>

· Tingkat sosial ekonomi rendah

· Gizi kurang

· Berat badan lahir rendah

· Tingkat pendidikan ibu yang rendah

· Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah

· Kepadatan tempat tinggal

· Imunisasi yang tidak memadai

· Menderita penyakit kronis

Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak , serta faktor perilaku.

1. Faktor lingkungan

a. Pencemaran udara dalam rumah

Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi.

Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 – 10 tahun.

b. Ventilasi rumah

Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan.

2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.

3. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.

4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.

5. Mengeluakan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.

6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.

c. Kepadatan hunian rumah

Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m². Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.

Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara, tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.

2. Faktor individu anak

a. Umur anak

Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh veirus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 –12 bulan.

b. Berat badan lahir

Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.

c. Status gizi

Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri : berat badan lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan atas.

Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.

Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama.

d. Vitamin A

Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.

Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anal prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan erlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

e. Status Imunisasi

Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.

Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% lematian pneumonia dapat dicegah.

3. Faktor perilaku

Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.

Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.

Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.

Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan.