We Can Be Your Friends On Science Study Because You Can Get Eastly Download The More Article, Picture, Video, And More Reference About Science. You Can Upload Your Activities In Science, Food Recipe, Various Crop Benefit For Drug, And etc. We Want You Science Study An Enjoyed.

Kamis, 15 Oktober 2009

rumah sehat

RUMAH SEHAT


oleh Lutfi Hasan Basri, S.Pd


Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: rumah-sehat1

1. Sirkulasi udara yang baik.

2. Penerangan yang cukup.

3. Air bersih terpenuhi.

4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:

1. Bahan Bangunan

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :

· Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3

· Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

· Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah

Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:

a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

b. Dinding

· Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara

· Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus­ dilengkapi dengan penangkal petir

e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.

f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :

a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C

b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

d. Pertukaran udara

e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit

Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah

a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.

b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur

Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”

Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :

1. Mencegah terjadinya penyakit

2. Mencegah terjadinya kecelakaan

3. Aman dan nyaman bagi penghuninya

4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Sumber:

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan

Ditjen P2MPLM, Petunjuk Tentang Perumahan dan Lingkungan Serta Penggunaan Kartu Rumah, 1995.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

oleh Lutfi Hasan Basri, S.Pd

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dimana pengertiannya sebagai berikut :bersin

1. Infeksi

Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2. Saluran pernafasan

Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

3. Infeksi Akut

Adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru – paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu :

* ISPA non- Pneumonia : dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek

*Pneumonia : apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas, peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat).

Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah superior menuju faring.

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

Menurut WHO, sekresi lendir atau gejala pilek terjadi juga pada penyakit common cold disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan atau coronavirus. Penyakit ini dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari. Sedangkan pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran nafas bagian atas. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernafasannya.

Sumber:

Depkes RI, Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA, 2001

Mukono, Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Pernafasan, 1997

Faktor Resiko ISPA Pada Balita

Melanjukan tulisan terdahulu tentang ISPA serta klasifikasi ISPA pada Balita, maka kita perlu mengetahui beberapa faktor resiko ISPA pada Balita. Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor resiko yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor resiko tersebut adalah sebagai berikut :

a. Faktor resiko yang meningkatkan insiden pneumonia

· Umur <>

· Laki-laki

· Gizi kurang

· Berat badan lahir rendah

· Tidak mendapat ASI memadai

· Polusi udara

· Kepadatan tempat tinggal

· Imunisasi yang tidak memadai

· Membedong anak (menyelimuti berlebihan)

· Defisiensi vitamin A

b. Faktor resiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia

· Umur <>

· Tingkat sosial ekonomi rendah

· Gizi kurang

· Berat badan lahir rendah

· Tingkat pendidikan ibu yang rendah

· Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah

· Kepadatan tempat tinggal

· Imunisasi yang tidak memadai

· Menderita penyakit kronis

Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak , serta faktor perilaku.

1. Faktor lingkungan

a. Pencemaran udara dalam rumah

Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi.

Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 – 10 tahun.

b. Ventilasi rumah

Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan.

2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.

3. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.

4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.

5. Mengeluakan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.

6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.

c. Kepadatan hunian rumah

Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m². Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.

Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara, tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.

2. Faktor individu anak

a. Umur anak

Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh veirus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 –12 bulan.

b. Berat badan lahir

Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.

c. Status gizi

Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri : berat badan lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan atas.

Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.

Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama.

d. Vitamin A

Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.

Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anal prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan erlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

e. Status Imunisasi

Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.

Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% lematian pneumonia dapat dicegah.

3. Faktor perilaku

Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.

Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.

Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.

Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan.

Senin, 14 September 2009

ISTILAH
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
Istilah adalah kata dalam kelompok kata yang dengan cermat mengungkapkan konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Dengan batasan tersebut mak akan terdapat pengelompokan istilah berdasarkan bidang atau disiplin ilmu. Oleh karena itu terdapat istilah di bidang kedokteran, teknologi, hukum, ekonomi, biologi, fisika, matematika, politik, sejarah, geografi, sosiologi, dan lain-lain.
Istilah ini memiliki ciri-ciri penggunaan sebagai berikut :
  1. Makna istilah bersifat tetap dan tidak bergantung pada konteks kalimat.
  2. makna istilah tidak mendapat unsur konotasi atau nilai rasa
  3. istilah ini dipergunakan secara umum dan bersifat universal. Bisa dikenal secara internasional.
Makna kata ada 2 macam; yakni denotasi dan konotasi
Denotasi adalah makna lugas, bersifat umum, dan tidak tercampur oleh nilai rasa, dan tidak berupa kiasan. Sedangkan konotasi adalah makna yang disertai asanya nilai rasa tertentu atau berupa kiasan.
Contoh denotasi : cincinnya dihiasi permata
Contoh konotasi : Dialah permata hatiku.
PERUBAHAN MAKNA KATA
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
1.  Meluas/generealisasi:makna kata sekarang lebih luas dari pada kata sebelumnya
2.  Menyempit/spesialisasi:makna sekarang lrbih sempit dari pada makna sebelumnya
3.  Amelioratif:makna kata sekarang lebih baik dari pada makna kata asal
4.  Peyoratif :Makna sekarang lebih jelek dari pada makna asal
5.  Sintestisia:Makna kata yang timbul karna tangkapan dua indra berbeda
6.  Asosiasi:makna kata yang timbul karna ,makna sifat
HUBUNGAN MAKNA KATA
1.  Sinonim:Kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan
2.  Antinim:Kata-kata yang memiliki makna berbeda
3.  Hipernim:kata-kata yang maknanya mencakupkata-kata yang lebih kecil
4.  Hiponim:kata-kata yang maknanyatercakup oleh suatu kata yang lebih besar,lebih luas
5.  Polisemi:kata-kata yang memilki makna ganda
6.  Homonim:kata-kata yang memilikikeswamaan ejaan bunyi namun beda arti
7.  Homofon: kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.
8.  Homograf: kata-kata yang memiliki tulisan sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.
TEKNIK MEMBACA
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
A.     JENIS-JENIS MEMBACA
Membaca Cepat
salah satu belajar kreatif adalah dengan menguasai teknik membaca dengan cepat. Membaca cepat merupakan teknik membaca dengan memindahkan pandangan mata secara cepat kata demi kata, baris demi baris, selanjutnua diharapkan ddapat dengan cepat mamahami bacaan. Untuk mambaca dengan cepat harus membaca dengan konsentrasi, menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara, perluas jangkauan mata ketika membaca dan tidak mengulang-ulang bacaan.
Membaca Sekilas (skimming)
Membaca sekilas biasanya dilakukan ketika membaca koran dan bacaan ringan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi yang diperlukan. Biasanya, ketika membaca koran tidak semua informasi dalam koran dapat dibaca.
Membaca sekilas adalah membaca yang dilakukan secara sekilas bagian-bagian teks, terutama judul, daftar isi, kata pengantar, atau hal-hal lainnya. Dalam membaca sekilas terdapat bebarapa hal yang harus kalian lakukan yaitu sebagai berikut :
  1. Jika membaca koran bacalah setiap judul bacaan tersebut
  2. Bacalah garis besar yang terdapat pada koran tersebut
  3. Jika ditemukan bacaan yang diinginkan, mulailah membacanya.
Membaca Memindai
Membaca memindai (scanning) merupakan kegiatan memca untuk mendapatkan informasi tanpa membaca yang lainnya. Tetapi langsung pada masalah yang diperlukan. Kegiatan membaca jenis ini dilakukan untuk mencari nomor telepon, mencari arti kata dalam kamus, mencari informasi dalam ensiklopedia
Dalam setiap buku ilmiah, pada bagian buku selalu ada indeks buku. Indeks berisi penunjang daftar nama dan halaman buku yng biasanya dimua dipenghabisan halaman. Scanning indeks maksudnya adalah mencari informasi tertentu dari suatu bacaan yakni mencari letak pada bagian dan halaman mana tulisan itu dimuat informasi yang kita butuhkan.
B.    MENENTUKAN OPINI DAN FAKTA
Fakta
Adalah hal yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada, terjadi dan ada buktinya. Misalnya : ada benda, orang, tempat, peristiwanya, jumlahnya, atau dapat menjawab pertanyaan dengan kata tanya apa, siapa, kapan, dimana, atau berapa.
Opini
Adalah pendapat, pikiran, pendirian, seseorang tentang sesuatu atau dapat menjawab pertanyaan bagaimana.
C.    MEMAHAMI DIAGRAM, TABEL,  DAN GRAFIK
Diagram
Merupakan gambaran hubungan dan kedudukan unsur objek untuk memperhatikan atau menerangkan sesuatu. Biasanya dengan memakai garis baik garis sambung maupun garis terputus-putus.
Tabel
Adalah daftar yang berisi sejumlah besaran data, informasi yang biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara sistematis urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu.
Grafik
Adalah gambaran pasang surut keadaan dengan garis atau gambar. Ada 3 macam grafik ; grafik batang, grafik garis, dan grafik lingkaran.
PIDATO, WAWANCARA, DAN DISKUSI
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
PIDATO
Pidato merupakan salah satu bentuk komunikasi lisan. Oleh karena itu, unsur-unsur yang berupa intonasi (tempo, tekanan, dan panjang pendeknya ucapan), gerak-gerik, dan mimik merupakan faktor yang sangat penting.
  1. Macam Pidato berdasarkan tujuannya
a.      Pidato Persuasif : bersifat mendorong atau mengajak
b.      pidato informative : bersifat memberitahukan atau mengabarkan
c.      pidato rekreatif : bersifat menghibur
  1. Metode Pidato
a.      impromptu (serta merta)
b.      menghafal
c.      naskah
d.      ekstemporan
  1. Kerangka Pidato
secara garis besar kerangka pidato dibagi menjadi 3 bagian yaitu : mendengarkan pada
a.      Pendahuluan : berisi uraian yang bertujuan untuk mempersiapkn pada pokok permasalahan yang hendak dikemukakan
b.      Isi : berisi gagasan pokok yang hendak disampaikan
c.      Penutup : biasanya berisi rangkuman, seruan, maupun penegasan kembali
WAWANCARA
Wawancara adalah pertemuan 2 orang atau lebih dengan maksud menggali informasi baik berupa fakta atau pendapat seseorang guna tujuan tertentu.
1.      Langkah-Langkah Wawancara
  1. Menentukan tujuan wawancara
  2. Menentukan dan menghubungi narasumber
  3. Menyusun pertanyaan
  4. Mempersiapkan buku catatan atau alat rekam
  5. Melakukan wawancara dengan sopan
2.      Macam-Macam Wawancara
  1. Wawancara bebas; wawancara yang pertanyaannya tidak dirumuskan terlebih dahulu
  2. Wawancara terpimpin
3.      Laporan Wawancara
BAB I    PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
B.     Tujuan
BAB II  ISI LAPORAN
A.     PELAKSANAAN
1.      Pewawancara
2.      Narasumber
3.      Topik/Tema Wawancara
4.      Waktu dan Tempat
B.     TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
C.    ANALISIS HASIL WAWANCARA
BAB III   PENUTUP
a.      Simpulan
b.      Saran
DISKUSI
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
DISKUSI adalah bertukar pikiran tentang masalah khusus dalam bentuk musyawarah. Masalah yang didiskusikan adalah masalah yang menyangkut kepentingan bersama.
Personal diskusi
  1. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Diskusi
a.      Moderator
b.      Peserta/Audiens
c.      Penyaji
d.      Pengunjung/Penyangga
e.      Penulis/Notulen
  1. Syarat-Syarat Moderator Yang Baik
a.      Mengetahui Aturan Diskusi
b.      Sabar, Rendah Hati, Dan Menghargai Pendapat Setiap Pembicara
c.      Jujur, Ramah, Tidak Berat Sebelah
  1. Syarat-Syarat Peserta Yang Baik
a.      Mematuhi aturan diskusi
b.      Memahami/menguasai pokok/materi diskusi
c.      Aktif menyumbangkan buah oikiran
d.      Menghargai pendapat orang lain
e.      Menghindari sifat emosional
f.        Berbicara dengan sopan, jelas, sederhana tidak berbelit-belit
g.      Tidak takut dikritik dan berani melontarkan kritik
h.      Berani berpendapat dan berbicara dengan terbuka
  1. Syarat Penyaji Yang Baik
a.      Menyusun makalah dengan referensi mutakhir.
b.      Menyajikan makalah dengan jelas dan menyakinkan.
c.      Menanggapi saran dan pertanyaan dengan lugu dan objektif.
KARYA TULIS
Oleh. Lutfi Hasan Basri
www.daon-daon.blogspot.com
A.     MENYUSUN KARYA ILMIAH SEDERHANA
Dalam kaitannya dengan kualitas penerimaan materi pelajaran, kegiatan mengarah/membuat karya tulis siswa dapat menjadi tolak ukur keberhasilan siswa dalam mengungkapkan gagasan ke dalam bahasa tulisan. Proses penyampaian gagasan ke dalam tulisan merupakan tantangan tersendiri bagi seorang siswa dan tidak mudah, diperlukan waktu untuk dapat menghasilkan karya tulis yang baik.
  1. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penulisan Karangan adalah:
a.      Kesesuaian Antara Judul Dengan Isi, meliputi :
-         Pengembangan ide pokok (kalimat utama)
-         Pengembangan kalimat penjelas
-         Pengembangan tema karangan
b.      EYD, meliputi :
-         Penggunaan tanda baca
-         Penggunaan huruf kapital
c.      Kerapian, meliputi :
-         Teknik Penulisan Alenia
-         Teknik Pemenggalan Kata
-         Kerapian Tulisan
  1. Menentukan Topik
Topik adalah gagasan inti yang dijadikan landasan pengembangan karangan. Topik umumnya dinyatakan dalam kata atau frase.
Syarat-syarat penentuan topik karangan.
a.      Topik yang dipilih terkait dengan pengalaman dan pengetahuan kita. Hindarilah topik yang tidak ada hubungannya dengan kedua hal di atas karena akan menyulitkan kita dalam mengarang.
b.      Topik yang dibahas harus menarik dan sesuai dengan minat
  1. Menyusun Kerangka Karangan
Kerangka Karangan adalah rencana kerja yang memuat gari-garis besar suatu karangan. Fungsi kerangka karangan adalah sebagai berikut :
a.      Memudahkan penyusunan karangan sehingga menjadi lebih teratur
b.      Memudahkan penempatan antara bagian karangan yang penting dengan yang kurang penting
c.      Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan
d.      Membantu pengumpulan sumber-sumber yang diperlukan
secar umum format kerangka karangan meliputi pendahuluan, pembahasan, serta kesimpulan dan saran.
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
I.         PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Masalah
b. Tujuan Penulisan
c. Landasan Teori
II.       PEMBAHASAN
a. Deskripsi Data
b. Analisis
III.      KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
  1. Paragaraf/Alenia
Paragraf atau Alenia adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Alenia merupakan himpunan kalimat yang bertaliandalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Oleh karena itu oembentukan sebuah alenia/paragraf sekurang-kurangnya memiliki tujuan:
1.      Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain.
2.      Meningkatkan konsentrasi terhadap tema alenia dengan memisahkan dan menegaskan perhatian secara wajar dan formal pada akhir kalimat.
Syarat-Syarat Pembentukan Alenia
Alenia yang baik dan efektif harus memenuhi syarat berikut :
  1. Kesatuan : semua kalimat yang mendukung alenia itu secara bersama-sama mendukung satu ide.
  2. Koherensi : kekompakan hubungan antara kalimat satu dengna kalimat lain yang membentuk alenia tersebut
  3. Pengembangan : pengembangan ide/gagasan dengan menggunakan kalimat-kalimat pendukung.
Hubungan Antar Kalimat
  1. Eksplisit : cirinya adanya kata ganti tunjuk, orang, dan adanya kata perangkai
  2. Implisit : adanya kata penghubung sehingga hubungan antar kalimat itu bisa jadi bersifat hubungan perlawanan, dan hubungan perbandingan.
POLA PENGEMBANGAN ALENIA
Berdasarkan letak kalimat utamanya, alenia terbagi menjadi :
  1. Alenia Deduktif : kalimat utama terdapat pada sumber aslinya
  2. Alenia Induktif : kalimat utama terdapat pada akhir kalimat
  3. Alenia Campuran : kalimat utama terletak si awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir.
  4. Alenia Deskriptif : tanpa kalimat utama
  1. Daftar Pustaka
Daftar Pustaka atau bibliografi adalah suatu daftar yang berisi judul buku atau bahan penerbitan yang berhubungan dengan karangan yang sedang disusun.
Fungsi Daftar Pustaka
a.      Untuk memandu melihat kembali pada sumber aslinya
b.      Untuk melihat kebenaran bahan yang dikutip
Daftar Pustaka ini dapat berupa buku, artikel di majalah atau koran, artikel-artikel tanpa pengarang.
Contoh daftar pustaka dari buku
Alisyahbana, S. Takdir, 1975. puisi baru. Jakarta: pikiran rakyat.
  1. MENYUNTING KARANGAN
Menyunting adalah menyiapkan naskah dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur). Dari kegiatan menyunting maka akan ada perbaikan kesalahan tulisan ditinjau dari ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, dan keterpaduan paragraf.
  1. MENULIS BERBAGAI JENIS KARANGAN
  1. Karangan Fiksi Dan Non Fiksi
a.      Karangan Fiksi adalah karangan yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarangnya. Fiksi atau cerita rekaan biasanya berbentuk roman, novel, dan cerita pendek (cerpen).
b.      Karangan Nonfiksi adalah karangan yang dibuat berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tulisan nonfiksi biasanya berbentuk tulisan ilmiah, dan ilmiah populer, laporan, artikel, feature, skripsi, tesis, disertasi, makalah, dan sebagainya.
  1. Karangan Narasi, Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi Dan Persuasi
a.      NARASI adalah jenis karangan yang bertujuan untuk menceritaknaa suatu pokok persoalan. Persoalan atau peristiwa dalam narasi :
-         Biasanya disampaikan secara kronologis dan mengandung plot atau rangkaian cerita
-         Didalamnya ada tokoh ang diceritakan, baik manusia maupun bukan manusia
b.      DESKRIPSI, karangan yang bersifat :
-         Informatif
-         Tulisan didasarkan atas hasil pengamatan
-         Pembaca diajak menikmati apa yang telah dinikmati (meniru kesan) penulis
-         Susunan peristiwa tidak menjadi pertimbangan utama, yang penting pensan sampai kepada pembaca
c.      EKSPOSISI adalah jenis karangan yang bertujuan menerangkan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan seseorang/ pembaca. Untuk mempertegas masalah yang disampaikan biasanya dilengkapai dengan data-data kesaksian, seperti gambar, grafik, statistik, dan sebagainya. Jika dalam deskripsi kesan subyektif yang disampaikan pengarang tampak lebih menonjol sedang dalam eksposisi tidak.
d.      ARGUMENTASI adalah jenis karangan yang berisi ide/gagasan yang dilengkapi bukti-bukti kesaksian yang dijalin menurut proses penalaran yang kritis dan logis dengan tujuan mempengaruhi atau menyakinkan pembaca untuk menyatakan persetujuannya. Jika dalam eksposisi penutup karangan berupa penegasan, dalam argumentasi penutup karangan berupa kesimpulan.
e.      PERSUASI adalah karangan yang disampaikan dengan cara-cara tertentu, bersifat ringkas, menarik dan mempengaruhi secara kuat kepada pembaca sehingga si pembaca terhanyut oleh siratan isinya.